Senin, 27 Oktober 2014
STIKES YOGYAKARTA
S1 KEPERAWATAN
TAHUN 2014/2015
KOMUNIKASI KEPERAWATAN
Fase-Fase Komunikasi Terapeutik
I. Pendahuluan
Keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus dimiliki oleh seorang perawat dan merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan. Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, yang merupakan komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi keperawatan sehingga memberikan khasiat terapi bagi proses penyembuhan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terstruktur yang terdiri dari empat tahap yaitu fase pra-interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi.
II. Isi
Komunikasi terapeutik yang terjadi antara perawat dan klien harus melalui empat tahap meliputi fase pra-interaksi, orientasi, fase kerja dan fase terminasi. Agar komunikasi terapeutik antara perawat dan klien dapat berjalan sesuai harapan, diperlukan strategi yang harus dilakukan oleh perawat pada saat melakukan komunikasi terpeutik dengan kliennya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai strategi pada setiap tahapan komunikasi terapeutik sesuai dengan pemicu 1 yaitu antara perawat A dan Ny. S yang merupakan klien post-operasi.
a. Fase pra-interaksi
Fase pra-interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan klien. Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya dengan cara mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi tentang klien sebagai lawan bicaranya. Setelah hal ini dilakukan perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahapan ini dilakukan oleh perawat dengan tujuan mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat sebelum melakukan komunikasi terapeutik dengan klien.
Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi interaksinya dengan orang lain (Ellis, Gates dan Kenworthy, 2000 dalam Suryani, 2005). Hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Pada saat perawat merasa cemas, dia tidak akan mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan baik (Brammer, 1993 dalam Suryani, 2005) sehingga tidak mampu melakukan active listening (mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian).
Strategi komunikasi yang harus dilakuakn perawat A dalam tahapan ini adalah:
a. Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi kecemasan Ny. S.
b. Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri.
c. Mengumpulkan data dan informasi tentang Ny. S dari keluarga terdekatnya.
d. Merencanakan pertemuan pertama dengan Ny.S dengan bersikap positif dan menghindari prasangka buruk terhadap klien di pertemuan pertama.
b. Fase orientasi
Fase orientasi atau perkenalan merupakan fase yang dilakukan perawat pada saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien. Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dengan klien dilakukan. Tujuan dalam tahap ini adalah memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah lalu (Stuart.G.W, 1998).
Strategi yang dapat dilakukan perawat A dalam tahapan ini adalah:
a) Membina rasa saling percaya dengan menunjukkan penerimaan dan komunikasi terbuka terhadap Ny.S dengan tidak membebani diri dengan sikap Ny.S yang melakukan penolakan diawal pertemuan.
b) Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan) bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yang telah disepakati bersama. Perawat A dapat menanyakan kepada keluarga Ny.S mengenai topik pembicaraan yang mungkin akan menarik bagi Ny.S.
c) Mengeksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan serta mengidentifikasi masalah klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik komunikasi pertanyaan terbuka. Ketika Ny.S diam saja atau memalingkan muka, perawat A bisa menanyakan apakah Ny.S merasakan sakit dan apa yang membuat Ny.S merasa tidak nyaman.
d) Merumuskan tujuan interaksi dengan klien. Pada pertemuan awal dengan Ny.S, perawat A memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa saling percaya dengan kliennya. Maka, perawat A harus berusaha agar tujuan awal tersebut dapat tercapai.
c. Fase kerja
Fase kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart,1998). Fase kerja merupakan inti dari hubungan perawat dan klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Pada fase kerja ini perawat perlu meningkatkan interaksi dan mengembangkan faktor fungsional dari komunikasi terapeutik yang dilakukan. Meningkatkan interaksi sosial dengan cara meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, atau dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan dalam mengembangkan hubungan kerja sama. Mengembangkan atau meningkatkan faktor fungsional komunikasi terapeutik dengan melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada, meningkatkan komunikasi klien dan mengurangi ketergantungan klien pada perawat, dan mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.
Tugas perawat pada fase kerja ini adalah mengeksplorasi stressor yang terjadi pada klien dengan tepat. Perawat juga perlu mendorong perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian mekanisme koping yang konstruktif, dan mengarahkan atau mengatasi penolakan perilaku adaptif. Strategi yang dapat dilakukan perawat A terhadap Ny.S ialah mengatasi penolakan perilaku adaptif Ny.S dengan cara menciptakan suasana komunikasi yang nyaman bagi Ny.S dengan cara:
a) Berhadapan dengan lawan bicara.Dengan posisi ini perawat menyatakan kesiapannya (”saya siap untuk anda”).
b) Sikap tubuh terbuka; kaki dan tangan terbuka (tidak bersilangan)
Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk mendukung terciptanya komunikasi.
c) Menunduk/memposisikan tubuh kearah/lebih dekat dengan lawan bicara
Hal ini menunjukkan bahwa perawat bersiap untuk merespon dalam komunikasi (berbicara-mendengar).
d) Pertahankan kontak mata, sejajar, dan natural. Dengan posisi mata sejajar perawat menunjukkan kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi.
e) Bersikap tenang. Akan lebih terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara dan menggunakan gerakan/bahasa tubuh yang natural.
Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh klien. Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang sedang dihadapi oleh klien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.
Dibagian akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu perawat dan klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray,B. & Judith,P,1997 dalam Suryani,2005). Dengan dilakukannya penarikan kesimpulan oleh perawat maka klien dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan yang telah disampaikannya diterima dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat.
d. Fase terminasi
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien. Tahap terminasi dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart,G.W,1998). Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih akan bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati bersama. Sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh proses keperawatan.
Tugas perawat dalam tahap ini adalah:
a) Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan (evaluasi objektif). Brammer dan McDonald (1996) menyatakan bahwa meminta klien untuk menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini.
b) Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi dengan perawat. Perawat A bisa langsung menanyakan perasaan Ny. S dalam setiap akhir pertemuan dengannya.
c) Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindak lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi yang baru saja dilakukan atau dengan interaksi yang akan dilakukan selanjutnya. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan berikutnya.
III. Penutup
Komunikasi terapeutik merupakan tanggung jawab moral seorang perawat serta salah satu upaya yang dilakukan oleh perawat untuk mendukung proses keperawatan yang diberikan kepada klien. Untuk dapat melakukannya dengan baik dan efektif diperlukan strategi yang tepat dalam berkomunikasi sehingga efek terapeutik yang menjadi tujuan dalam komunikasi terapeutik dapat tercapai.
REFERENSI
Hitchcock, JE.(1999). Community health nursing:caring in action. Madrid: Delmar Publisher.
Kozier,et.al.(2004). fundamentals of nursing ; concepts, process and practice seventh edition. United States: Pearson Prentice Hall.
Potter, P.A & Perry, A.G.(1993). fundamental of nursing concepts, process & practice. third edition. St.Louis: Mosby Year Book.
Sears.M.(2004). Using Therapeutic Communication to Connect with Patients.(http://www.Nonviolent Communication.com)
Suryani.(2005). komunikasi terapeutik; teori &praktik. Jakarta: EGC
Tim keilmuan keperawatan jiwa.(2009). Komunikasi Keperawatan mata ajr keperawatan dewasa III. Depok: FIKUI.
Senin, 13 Oktober 2014
medical emergency at school
DOI: 10.1542/peds.2005-1474
Pediatrics 2005;116;e738
Robert P. Olympia, Eric Wan and Jeffrey R. Avner
Survey of School Nurses
The Preparedness of Schools to Respond to Emergencies in Children: A National
http://pediatrics.aappublications.org/content/116/6/e738.full.html
located on the World Wide Web at:
The online version of this article, along with updated information and services, is
of Pediatrics. All rights reserved. Print ISSN: 0031-4005. Online ISSN: 1098-4275.
Boulevard, Elk Grove Village, Illinois, 60007. Copyright © 2005 by the American Academy
published, and trademarked by the American Academy of Pediatrics, 141 Northwest Point
publication, it has been published continuously since 1948. PEDIATRICS is owned,
PEDIATRICS is the official journal of the American Academy of Pediatrics. A monthly
Downloaded from pediatrics.aappublications.org at Indonesia:AAP Sponsored on October 6, 2014
The Preparedness of Schools to Respond to Emergencies in Children:
A National Survey of School Nurses
Robert P. Olympia, MD*; Eric Wan, MD*; and Jeffrey R. Avner, MD‡
ABSTRACT.
Objectives. Because children spend a
significant proportion of their day in school, pediatric
emergencies such as the exacerbation of medical conditions,
behavioral crises, and accidental/intentional injuries
are likely to occur. Recently, both the American
Academy of Pediatrics and the American Heart Association
have published guidelines stressing the need for
school leaders to establish emergency-response plans to
deal with life-threatening medical emergencies in children.
The goals include developing an efficient and effective
campus-wide communication system for each
school with local emergency medical services (EMS); establishing
and practicing a medical emergency-response
plan (MERP) involving school nurses, physicians, athletic
trainers, and the EMS system; identifying students
at risk for life-threatening emergencies and ensuring the
presence of individual emergency care plans; training
staff and students in first aid and cardiopulmonary resuscitation
(CPR); equipping the school for potential lifethreatening
emergencies; and implementing lay rescuer
automated external defibrillator (AED) programs. The
objective of this study was to use published guidelines
by the American Academy of Pediatrics and the American
Heart Association to examine the preparedness of
schools to respond to pediatric emergencies, including
those involving children with special care needs, and
potential mass disasters.
Methods. A 2-part questionnaire was mailed to 1000
randomly selected members of the National Association
of School Nurses. The first part included 20 questions
focusing on: (1) the clinical background of the school
nurse (highest level of education, years practicing as a
school health provider, CPR training); (2) demographic
features of the school (student attendance, grades represented,
inner-city or rural/suburban setting, private or
public funding, presence of children with special needs);
(3) self-reported frequency of medical and psychiatric
emergencies (most common reported school emergencies
encountered over the past school year, weekly number of
visits to school nurses, annual number of “life-threatening”
emergencies requiring activation of EMS); and (4)
the preparedness of schools to manage life-threatening
emergencies (presence of an MERP, presence of emergency
care plans for asthmatics, diabetics, and children
with special needs, presence of a school nurse during all
school hours, CPR training of staff and students, availability
of athletic trainers during all athletic events, presence
of an MERP for potential mass disasters). The second
part included 10 clinical scenarios measuring the
availability of emergency equipment and the confidence
level of the school nurse to manage potential life-threatening
emergencies.
Results. Of the 675 questionnaires returned, 573 were
eligible for analysis. A majority of responses were from
registered nurses who have been practicing for >5 years
in a rural or suburban setting. The most common reported
school emergencies were extremity sprains and
shortness of breath.
Sixty-eight percent (391 of 573 [95% confidence interval
(CI): 64–72%]) of school nurses have managed a lifethreatening
emergency requiring EMS activation during
the past school year. Eighty-six percent (95% CI: 84–90%)
of schools have an MERP, although 35% (95% CI: 31–
39%) of schools do not practice the plan. Thirteen percent
(95% CI: 10–16%) of schools do not identify authorized
personnel to make emergency medical decisions. When
stratified by mean student attendance, school setting,
and funding classification, schools with and without an
MERP did not differ significantly.
Of the 205 schools that do not have a school nurse
present on campus during all school hours, 17% (95% CI:
12–23%) do not have an MERP, 17% (95% CI: 12–23%) do
not identify an authorized person to make medical decisions
when faced with a life-threatening emergency, and
72% (95% CI: 65–78%) do not have an effective campuswide
communication system. CPR training is offered to
76% (95% CI: 70–81%) of the teachers, 68% (95% CI:
61–74%) of the administrative staff, and 28% (95% CI:
22–35%) of the students.
School nurses reported the availability of a bronchodilator
meter-dosed inhaler (78% [95% CI: 74–81%]),
AED (32% [95% CI: 28–36%]), and epinephrine autoinjector
(76% [95% CI: 68–79%]) in their school. When
stratified by inner-city and rural/suburban school setting,
the availability of emergency equipment did not
differ significantly except for the availability of an oxygen
source, which was higher in rural/suburban schools
(15% vs 5%).
School-nurse responders self-reported more confidence
in managing respiratory distress, airway obstruction,
profuse bleeding/extremity fracture, anaphylaxis,
and shock in a diabetic child and comparatively less
confidence in managing cardiac arrest, overdose, seizure,
heat illness, and head injury.
When analyzing schools with at least 1 child with
special care needs, 90% (95% CI: 86–93%) have an MERP,
64% (95% CI: 58–69%) have a nurse available during all
school hours, and 32% (95% CI: 27–38%) have an efficient
and effective campus-wide communication system
From the *Department of Emergency Medicine, Newark Beth Israel Medical
Center, Saint Barnabas Health Care System, Newark, New Jersey; and
‡Division of Pediatric Emergency Medicine, Department of Pediatrics, Children’s
Hospital at Montefiore, Albert Einstein College of Medicine, Bronx,
New York.
Accepted for publication Aug 11, 2005.
doi:10.1542/peds.2005-1474
No conflict of interest declared.
Address correspondence to Robert P. Olympia, MD, Department of Emergency
Medicine, Pennsylvania State University, Milton S. Hershey Medical
Center, 500 University Dr, Hershey, PA 17033. E-mail: rolympia@hmc.
psu.edu
PEDIATRICS (ISSN 0031 4005). Copyright © 2005 by the American Academy
of Pediatrics.
e738 PEDIATRICS Vol. 116 No. 6 December 2005 www.pediatrics.org/cgi/doi/10.1542/peds.2005-1474
Downloaded from pediatrics.aappublications.org at Indonesia:AAP Sponsored on October 6, 2014
linked with EMS. There are no identified authorized
personnel to make medical decisions when the school
nurse is not present on campus in 12% (95% CI: 9–16%) of
the schools with children with special care needs. When
analyzing the confidence level of school nurses to respond
to common potential life-threatening emergencies
in children with special care needs, 67% (95% CI: 61–72%)
of school nurses felt confident in managing seizures, 88%
(95% CI: 84–91%) felt confident in managing respiratory
distress, and 83% (95% CI: 78–87%) felt confident in
managing airway obstruction. School nurses reported
having the following emergency equipment available in
the event of an emergency in a child with special care
needs: glucose source (94% [95% CI: 91–96%]), bronchodilator
(79% [95% CI: 74–83%]), suction (22% [95% CI:
18–27%]), bag-valve-mask device (16% [95% CI: 12–
21%]), and oxygen (12% [95% CI: 9–16%]).
An MERP designed specifically for potential mass disasters
was present in 418 (74%) of 573 schools (95% CI:
70–77%). When stratified by mean student attendance,
school setting, and funding classification, schools with
and without an MERP for mass disasters did not differ
significantly.
Conclusions.
Although schools are in compliance
with many of the recommendations for emergency preparedness,
specific areas for improvement include practicing
the MERP several times per year, linking all areas
of the school directly with EMS, identifying authorized
personnel to make emergency medical decisions, and
increasing the availability of AED in schools. Efforts
should be made to increase the education of school
nurses in the assessment and management of life-threatening
emergencies for which they have less confidence,
particularly cardiac arrest, overdose, seizures, heat illness,
and head injury. Pediatrics 2005;116:e738–e745.
URL: www.pediatrics.org/cgi/doi/10.1542/peds.2005-1474;
school emergencies, children with special health care
needs, disaster preparedness.
ABBREVIATIONS.
AAP, American Academy of Pediatrics; AHA,
American Heart Association; EMS, emergency medical services;
MERP, medical emergency-response plan; CPR, cardiopulmonary
resuscitation; AED, automated external defibrillator; NASN, National
Association of School Nurses; CI, confidence interval.
Because children spend a significant proportion
of their day in school, pediatric emergencies
such as the exacerbation of medical conditions,
behavioral crises, and accidental/intentional injuries
are likely to occur. Recently, the American Academy
of Pediatrics (AAP) Committee on School Health1
and the American Heart Association (AHA)2 published
guidelines stressing the need for school leaders
to establish emergency-response plans to deal
with life-threatening medical emergencies in children.
The goals include developing an efficient and
effective campus-wide communication system for
each school with local emergency medical services
(EMS); establishing and practicing a medical emergency-
response plan (MERP) involving school
nurses, physicians, athletic trainers, and the EMS
system; identifying students at risk for life-threatening
emergencies and ensuring the presence of individual
emergency care plans; training staff and students
in first aid and cardiopulmonary resuscitation
(CPR); equipping the school for potential life-threatening
emergencies; and implementing lay rescuer
automated external defibrillator (AED) programs.
Furthermore, recently published guidelines recommend
improving the training of school nurses to
determine rapidly and accurately the status of ill or
injured children, provide life-saving interventions,
and evaluate the effectiveness of treatment.3,4 The
only previously published study examining the preparedness
of school nurses to respond to emergencies
in children was conducted on a local level.5
The AAP has also recently published recommendations
focusing on the preparedness of schools for
emergencies in children with special health care
needs6 and disaster preparedness.7 Because children
with special health care needs frequently require
emergency care for acute life-threatening complications
and often lack concise summaries of their medical
conditions and special management plans, the
AAP has recommended that a brief, comprehensive,
and frequently updated summary of their medical
condition be rapidly accessible at home, school, during
transportation, and the closest emergency department.
In addition, disaster preparedness has
been made a priority at a local and national level
because of heightened awareness for the possibility
of biological, chemical, and nuclear terrorism8,9 as
well as occurrences of mass disasters in schools. The
AAP has recommended that pediatricians take a
more active role in establishing disaster plans in the
community, including schools, and in the training of
first responders, including school nurses, administrative
staff, and teachers. Because these recommendations
are recent, published data examining the
preparedness of schools to deal with emergencies in
these 2 situations are lacking.
The objective of this study is to use published
guidelines by the AAP and AHA to examine the
preparedness of schools in the United States to respond
to pediatric life-threatening emergencies, including
those emergencies involving children with
special care needs, as well as the preparedness of
schools to respond to potential mass disasters.
MATERIALS AND METHODS
A 2-part questionnaire was developed to determine the preparedness
of schools in the United States to respond to lifethreatening
emergencies in children. The first part included 20
questions focusing on (1) the clinical background of the school
nurse (highest level of education, years practicing as a school
health provider, CPR training), (2) demographic features of the
school (student attendance, grades represented, inner-city or rural/
suburban setting, private or public funding, presence of children
with special needs), (3) self-reported frequency of medical
and psychiatric emergencies (most common reported school emergencies
encountered over the past school year, weekly number of
visits to school nurses, annual number of “life-threatening” emergencies
requiring activation of EMS), and (4) the preparedness of
schools to manage life-threatening emergencies (presence of an
MERP, presence of emergency care plans for asthmatics, diabetics,
and children with special needs, presence of a school nurse during
all school hours, CPR training of staff and students, availability of
athletic trainers during all athletic events, presence of an MERP for
potential mass disasters). The second part included 10 clinical
scenarios (Appendix) measuring the availability of emergency
equipment and the confidence level of the school nurse to manage
potential life-threatening emergencies. Confidence was defined as
a response of 4 (“confident”) or 5 (“very confident”) on a Likert
scale ranging from 1 (“very uncomfortable”) to 5 (“very confident”).
These cases were adapted from a previously published
www.pediatrics.org/cgi/doi/10.1542/peds.2005-1474 e739
Downloaded from pediatrics.aappublications.org at Indonesia:AAP Sponsored on October 6, 2014
study that examined the confidence of schoolteachers to respond
to 14 clinical scenarios reflecting potential pediatric emergencies
in schools.10
In December 2004, the questionnaire was mailed to 1000 randomly
selected members of the National Association of School
Nurses (NASN). A second mailing was sent to nonresponders in
January 2005. Data analysis was performed on responses from
practicing full-time or part-time school nurses who work exclusively
in a single school setting. Responses from nurses who were
retired, no longer work in a school setting, work at 1 school, or
work primarily as a nurse administrator of a school district at the
time of the study were excluded.
Data organization and analysis were performed by using the
Epi Info system developed by the Centers for Disease Control and
Prevention.11 Descriptive statistics were calculated for all response
variables. Analysis of variance was used to compare continuous
data, and the 2 test was used to compare categorical data. 95%
confidence intervals (CIs) were calculated by standard methods.
Significance was indicated by a P value of .05. Significance of
differences between 2 stratified groups was determined by nonoverlapping
95% CIs. The institutional review board at Newark
Beth Israel Medical Center approved the study. A letter of informed
consent was mailed with the questionnaire.
RESULTS
Of the 1000 questionnaires sent, 21 were returned
as “undeliverable.” Of the remaining 979 questionnaires,
675 (69%) were returned. One hundred two
returned questionnaires were excluded (37 respondents
were retired, 19 respondents no longer worked
in a school setting, 20 respondents worked in 1
school, and 26 respondents worked in a school district
as an administrator), which left 573 questionnaires
available for analysis.
A majority of responses were from registered
nurses practicing for 5 years in a rural or suburban
setting (Table 1). Responding school nurses represented
49 states (except Alaska) and the District of
Columbia. The most common reported school emergencies
were extremity sprains and shortness of
breath (Table 2). The school nurse’s ranking of the
most common school-related emergencies did not
differ significantly at the 95% confidence level between
inner-city and rural/suburban school settings.
Of 573 school nurses, 391 (68% [95% CI: 64–72%])
had managed a life-threatening emergency requiring
EMS activation during the past school year. Table 3
evaluates the preparedness of schools to respond to
pediatric life-threatening emergencies as delineated
by the AAP1 and AHA.2 The only statistically significant
difference in the emergency preparedness of
inner-city versus rural/suburban schools was in the
identification of authorized personnel to make medical
decisions when faced with a life-threatening
emergency. More school nurses who worked in an
inner-city setting reported lacking “identification of
authorized personnel to make medical decisions”
compared with nurses who work in a rural/suburban
setting (21% vs 11%; P .02). When stratified by
mean student attendance, school setting, and funding
classification, schools with and without an MERP
did not differ significantly (Table 4).
Of the 205 schools that do not have a school nurse
present on campus during all school hours, 17% (95%
CI: 12–23%) do not have an MERP, 17% (95% CI:
TABLE 1. Demographics of School Nurse Responders and Their Schools
All Responses
(N 573)
Inner City
(N 108)
Rural/Suburban
(N 465)
School–nurse demographics
Highest educational level
Liscensed practical nurse 12 (2 1–4 ) 1(1 0–5 ) 11 (2 1–4 )
Registered nurse 394 (69 65–73 ) 70 (65 56–73 ) 324 (70 66–74 )
Masters degree 139 (24 21–28 ) 30 (28 20–37 ) 109 (23 19–27 )
Nurse practitioner 25 (4 3–6 ) 6(6 3–12 ) 19 (4 3–6 )
Doctorate in nursing 3 (1 0–2 ) 1(1 0–5 ) 2 (0.4 0–0.5 )
Experience as school nurse
5 y 115 (20 17–23 ) 13 (12 7–19 ) 102 (22 18–26 )
5 y 458 (80 77–83 ) 95 (88 81–93 ) 363 (78 74–82 )
Certification in CPR† 478 (83 80–86 ) 88 (82 74–88 ) 390 (84 80–87 )
School demographics
Student attendance* 962 (849 892–1032 ) 755 (511 659–851 ) 1010 (903 928–1092 )
Grades represented
Kindergarten through 8th grade 241 (42 38–46 ) 54 (50 41–59 ) 187 (40 36–45 )
High school 92 (16 13–19 ) 21 (19 13–27 ) 71 (15 12–19 )
Kindergarten through high school 240 (42 38–46 ) 33 (31 23–40 ) 207 (45 41–50 )
Funding classification
Public 519 (91 88–93 ) 95 (88 81–93 ) 424 (91 88–93 )
Private 54 (9 7–12 ) 13 (12 7–19 ) 41 (9 7–12 )
Weekly number of visits to school nurses
for “medical or psychiatric” emergencies
10 visits 193 (33 30–38 ) 29 (27 20–36 ) 164 (35 31–39 )
10–25 visits 90 (16 13–19 ) 19 (18 12–26 ) 71 (15 12–19 )
25 visits 290 (51 47–55 ) 60 (56 47–65 ) 230 (50 45–55 )
Life-threatening emergencies over the past
school year requiring activation of EMS*
2.2 (3.6 1.9–2.5 ) 2.8 (5.6 1.7–3.9 ) 2.1 (2.9 1.8–2.4 )
Children with special needs
Tracheostomy 96 (17 14–20 ) 18 (17 11–25 ) 78 (17 14–21 )
Gastric feeding tube 220 (38 34–42 ) 38 (35 27–44 ) 182 (39 35–44 )
Ventriculoperitoneal shunt 210 (37 33–41 ) 36 (33 25–42 ) 174 (37 33–42 )
All values are expressed as no. (% 95% CI ) except where noted.
* Values are expressed as mean (SD 95% CI ).
† Cardiopulmonary resuscitation.
e740 EMERGENCY PREPAREDNESS OF SCHOOLS
Downloaded from pediatrics.aappublications.org at Indonesia:AAP Sponsored on October 6, 2014
12–23%) do not identify an authorized person to
make medical decisions when faced with a lifethreatening
emergency, and 72% (95% CI: 65–78%)
do not have an effective campus-wide communication
system. CPR training is offered to 76% (95% CI:
70–81%) of the teachers, 68% (95% CI: 61–74%) of the
administrative staff, and 28% (95% CI: 22–35%) of the
students.
Table 5 describes the availability of selected emergency
equipment recommended by the AAP,1
AHA,2 and NASN12 as reported by school-nurse responders.
When stratified by inner-city and rural/
suburban school settings, the availability of emergency
equipment did not differ significantly except
for the availability of an oxygen source, which was
higher in rural/suburban schools (15% vs 5%; P
.001).
School-nurse responders self-reported more confidence
in managing respiratory distress, airway obstruction,
profuse bleeding/extremity fracture, anaphylaxis,
and shock in a diabetic child and
comparatively less confidence in managing cardiac
arrest, overdose, seizure, heat illness, and head injury
(Table 6). When stratified by inner-city and rural/
suburban settings, the reported confidence of
school nurses did not differ significantly. When comparing
levels of experience, school nurses with 5
years of experience and those with 5 years of experience
reported similar levels of confidence in all
scenarios except in the management of a diabetic
child in shock, in which more experienced nurses
reported greater confidence (82% vs 70%; P .005).
When analyzing the schools with at least 1 child
with special care needs, 254 (90% [95% CI: 86–93%])
TABLE 2. Most Common Reported School Emergencies
All Responses
(N 573)
Extremity sprain 339 (59 55–63 )
Shortness of breath 336 (59 55–63 )
Seizure 89 (16 13–19 )
Extremity fracture 81 (14 11–17 )
Head/neck injury 61 (11 9–14 )
Laceration 60 (11 9–14 )
Psychiatric emergency 44 (8 6–11 )
Abdominal pain 27 (5 3–7 )
Syncope 19 (3 2–5 )
Anaphylaxis 18 (3 2–5 )
Chest pain/palpitations 17 (3 2–5 )
Dehydration 17 (3 2–5 )
Poisoning/overdose 8 (1 0–2 )
Airway obstruction 8 (1 0–2 )
Loss of consciousness 6 (1 0–2 )
Cardiac arrest 1 (0.2 0–1 )
All values are expressed as no. (% 95% CI ). Number of respondents
who ranked potential school emergency as “first most frequent”
or “second most frequent” when asked to rank the top 5
most frequent school emergencies encountered over the past
school year.
TABLE 3. Emergency Preparedness of Schools Based on AAP
and AHA Guidelines
All Responses
N 573
Presence of an MERP 498 (86 84–90 )
MERP practiced (N 498)
Beginning of school year only 154 (31 27–35 )
End of school year only 7 (1 0–2 )
Periodically during year 162 (33 29–37 )
Never practiced 176 (35 31–39 )
Presence of communication with local
EMS integrating all parts of
school campus*
185 (32 28–36 )
Identification of authorized personnel
to make medical decisions
No 75 (13 10–16 )
Yes: school nurse 365 (64 60–68 )
Yes: administrative staff 125 (22 19–26 )
Yes: teacher 7 (1 0–2 )
School nurse educated in basic life
support
478 (83 80–86 )
Presence of asthma emergency care
plan for asthmatics
462 (81 78–84 )
Presence of diabetic emergency care
plan for diabetics
514 (90 87–92% )
Presence of emergency care plan for
students with special care needs†
454 of 526 (86 83–89 )
School health provider present during
all school hours
368 (64 60–68 )
CPR training available in school
For administrative staff 368 (64 60–68 )
For teachers 434 (76 72–79 )
For students 166 (29 25–33 )
Athletic trainer present during all
athletic events‡
191 (36 32–40 )
All values are expressed as no (% 95% CI ).
* Cellular phones, walkie-talkies, alarms, intercom systems, etc.
† Five hundred twenty-six nurses reported at least 1 child with
special needs in their school.
‡ Five hundred thirty-four nurses responded; athletic events included
practices and competition.
TABLE 4. Comparisons With the Presence and Absence of an
MERP
Presence of MERP
(N 498)
Absence of MERP
(N 75)
Student attendance* 940 (804 869–1011 ) 1108 (1096 860–1356 )
Setting
Inner city 95 (88 81–93 ) 13 (12 7–19 )
Rural/suburban 403 (87 84–90 ) 62 (13 10–16 )
Funding classification
Public 446 (86 83–89 ) 73 (14 11–17 )
Private 52 (96 87–99 ) 2(4 1–13 )
All values are expressed as no. (% 95% CI ) except where noted.
* Values are expressed as mean (SD 95% CI ).
TABLE 5. Availability of Emergency Equipment at Each
School as Recommended by the AAP, AHA, and NASN
All Responses
(N 573)
Suction device 84 (15 12–18 )
Oxygen 75 (13 10–16 )
Albuterol meter dosed inhaler 446 (78 74–81 )
Mouth-to-mouth mask 526 (92 89–94 )
Bag-valve-mask device 109 (19 16–22 )
AED 184 (32 28–36 )
Epinephrine autoinjector 437 (76 68–79 )
Emergency care manual 469 (82 79–85 )
Gloves 562 (98 96–99 )
Face mask/shield 355 (62 58–66 )
Portable first aid kit 497 (87 84–90 )
Glucose source for hypoglycemia* 529 (92 89–94 )
Cervical spine collar 77 (13 10–16 )
Backboard with restraints 65 (11 9–14 )
Extremity splints 435 (76 72–79 )
Sterile dressings 477 (83 80–86 )
All values are expressed as no. (% 95% CI ).
* Sugar packet, glucagon, etc.
www.pediatrics.org/cgi/doi/10.1542/peds.2005-1474 e741
Downloaded from pediatrics.aappublications.org at Indonesia:AAP Sponsored on October 6, 2014
of 282 schools have an MERP, 64% (95% CI: 58–69%)
have a nurse available during all school hours, and
32% (95% CI: 27–38%) have an efficient and effective
campus-wide communication system linked with
EMS. There are no identified authorized personnel to
make medical decisions when the school nurse is not
present on campus in 12% (95% CI: 9–16%) of the
schools with children with special care needs. When
analyzing the confidence level of school nurses to
respond to common potential life-threatening emergencies
in children with special care needs, 67% (95%
CI: 61–72%) of the school nurses felt confident in
managing seizures, 88% (95% CI: 84–91%) felt confident
in managing respiratory distress, and 83% (95%
CI: 78–87%) felt confident in managing airway obstruction.
School nurses reported having the following
emergency equipment available in the event of
an emergency in a child with special care needs:
glucose source (94% [95% CI: 91–96%]), bronchodilator
(79% [95% CI: 74–83%]), suction (22% [95% CI:
18–27%]), bag-valve-mask device (16% [95% CI: 12–
21%]), and oxygen (12% [95% CI: 9–16%]).
An MERP designed specifically for potential mass
disasters was present in 418 (74% [95% CI: 70–77%])
of 573 schools. When stratified by mean student attendance,
school setting, and funding classification,
schools with and without an MERP for mass disasters
did not differ significantly (Table 7).
DISCUSSION
Several recently published studies have reported
the prevalence of life-threatening emergencies occurring
in children while they attend school. Seventeen
percent of surveyed teachers from the Midwest have
responded to at least 1 life-threatening student emergency
during their teaching career.10 A survey of
school nurses in New Mexico reported that 67% of
schools have activated EMS over the past year for a
life-threatening emergency in a student, with an average
of 4 transports per year.5 In a recently published
study, Miller and Spicer13 reported that each
year, 3.7 million children suffer a significant injury
while at school, resulting in an estimated $3.2 billion
in medical spending. These studies stress the importance
of establishing an MERP in schools throughout
the United States. An efficient and effective MERP
would improve the assessment, triage, and management
of injured and ill children at school by welltrained
and confident school staff members and facilitate
transfer of these children to an acute care
facility by EMS.
We attempted to determine the preparedness of
schools in the United States to deal with life-threatening
emergencies by determining if they had an
MERP as recommended by the AAP and AHA, determining
the availability of emergency equipment
at each school, and reporting the confidence level of
school nurses to deal with potential pediatric lifethreatening
emergencies. Our data demonstrate that
although school nurses reported that their schools,
for the most part, were in compliance with these
recommendations, there are areas for improvement.
Although a majority of schools have an MERP (including
emergency plans specific to children with
asthma, diabetes, and special care needs), the plan
was practiced periodically during the year in only
33% of the schools and never practiced in 35% of the
schools. Furthermore, an efficient and effective campus-
wide communication system, which would facilitate
the transfer of an injured or ill child by EMS
from the school to an acute care facility, was lacking
in 68% of the schools. No authorized personnel were
designated to make medical decisions when faced
with a life-threatening emergency in 13% of the
schools. Therefore, improvement in the preparedness
of schools to deal with life-threatening emergencies
should include increasing the frequency of practice
of the MERP (to identify potential barriers and
areas for improvement), linking all areas of the campus
directly with EMS through various means of
communication (cellular phones, walkie-talkies,
alarms, intercom systems), and designating roles
among school staff a priori for potential life-threatening
emergencies (administer medication, communicate
with EMS and local emergency departments,
contact family members).
The improvement in the preparedness of schools
to deal with life-threatening emergencies requires
the commitment of the entire community. The AAP
has suggested that school nurses take a leadership
role in the preparation of schools for life-threatening
emergencies by developing a strong partnership
with local EMS, school personnel, and local primary
care physicians.14 Pediatricians should take an active
role in local community response planning, assist in
the development of prehospital pediatric protocols,
TABLE 6. Reported Confidence of School Nurses in the Management
of Potential Pediatric Emergencies
All Responses
(N 573)
Respiratory distress 505 (88 85–90 )
Airway obstruction 481 (84 81–87 )
Profuse bleed/fracture 475 (83 80–86 )
Anaphylaxis 468 (82 79–85 )
Diabetic in shock 457 (80 77–83 )
Cardiac arrest 426 (74 70–77 )
Overdose 373 (65 61–69 )
Seizure 346 (60 56–64 )
Heat illness 287 (50 46–54 )
Head injury 287 (50 46–54 )
Confidence was determined by a response of 4 (“confident”) or 5
(“very confident”) on a Likert scale ranging from 1 (“very uncomfortable”)
to 5 (“very confident”). Values are expressed as no (%
95% CI ).
TABLE 7. Comparisons With the Presence and Absence of an
MERP for Mass Disasters
Presence of MERP
for Mass Disasters
(N 418)
Absence of MERP
for Mass Disasters
(N 150)
Student attendance* 961 (857 879–1043 ) 939 (795 812–1066 )
Setting
Inner city 79 (74 65–81 ) 28 (26 19–35 )
Rural/suburban 339 (74 70–78 ) 122 (26 22–30 )
Funding classification
Public 379 (74 70–78 ) 136 (26 22–30 )
Private 39 (74 61–84 ) 14 (26 16–39 )
All values are expressed as no. (% 95% CI ) except where noted.
* Values are expressed as mean (SD 95% CI ).
e742 EMERGENCY PREPAREDNESS OF SCHOOLS
Downloaded from pediatrics.aappublications.org at Indonesia:AAP Sponsored on October 6, 2014
train first responders in pediatric assessment and
CPR, and, in the event of a disaster, participate in the
community or hospital disaster plan.7 Emergency
physicians should also be involved in the development
and organization of systems for the prevention
of life-threatening emergencies in schools and advocate
through local legislation for the implementation
of school health emergency systems, school-nurse
staffing ratios, and administrator and teacher training.
15 EMS workers should identify the barriers to
the care of injured or sick children in schools in their
community and develop policies in schools to deal
with disasters such as extreme weather conditions,
fires, explosions, hazardous materials, mass causalities,
and bomb scares.3
In general, the availability of emergency equipment
at each school to treat potential life-threatening
emergencies requires improvement. One piece of
equipment recommended strongly by the AHA2,16
and NASN12 for schools is the AED. Our data show
that only 32% of the schools have an AED present on
campus. Although the risk of sudden cardiac arrest
has been estimated at 0.5 to 1.0 per 100 000 children
and young adults who participate in school athletics,
17,18 the use of an AED may be life saving. Furthermore,
the AHA has stressed the importance of
availability of an AED for potential sudden cardiac
arrest in adults who work or visit the school.2 Therefore,
improvements must be made in schools to increase
the availability of AEDs and ensure the certification
of all school nurses, as well as administrative
staff, teachers, and students, in basic life support.
Another area of improvement is the education and
training of school nurses as well as administrative
staff, teachers, and students. Our data show that 83%
of school nurses were certified in CPR. Furthermore,
school nurses reported less confidence when faced
with scenarios dealing with cardiac arrest, overdose,
seizures, heat illness, and head injury when compared
with the confidence in dealing with respiratory
distress, airway obstruction, profuse bleeding/
fracture, anaphylaxis, and a diabetic in shock. Only
50% of the school nurses reported confidence in managing
head injuries and 60% in managing seizures,
which is of concern because these scenarios were
reported as 2 of the 5 most common reported school
emergencies. Efforts should be made to increase the
education of school nurses in the assessment and
management of life-threatening emergencies, particularly
in topics for which they reported less confidence.
This education could be provided on the
school campus or in a conference format taught by
local pediatricians, emergency physicians, EMS staff,
or other school nurses. For example, education of
school nurses on CPR could include not only basic
life support certification but also frequent mock–
emergency-scenario training sessions. Furthermore,
considering the fact that school nurses may not be
present on campus during all school hours, efforts
should be made to increase the education of administrative
staff, teachers, and students in CPR.
One important barrier to the preparedness of
schools to respond to life-threatening emergencies in
children occurs when there is a school nurse present
during only a portion of the school day.3 The US
Department of Health and Human Services, in its
Healthy People 2010 objectives, recommends at least 1
nurse per 750 students, depending on the community
and student population.19 Our data demonstrate
that a significant proportion of surveyed schools that
have a school nurse present during only a portion of
the school day do not have an MERP and do not
identify an authorized person to make medical decisions
when faced with a life-threatening emergency.
Furthermore, only 75% of teachers and administrative
staff are trained in CPR. Therefore, efforts
should be made to improve the presence of an MERP
in schools that have a school nurse present during
only a portion of the school day and increase the
training of teachers and administrative staff to perform
CPR in the event of a pediatric cardiorespiratory
arrest. Although studies have demonstrated
schoolteachers’ overall lack of knowledge of CPR
and lack of confidence to manage asthma and epilepsy,
Barrett20 has illustrated the value of school
nurses educating schoolteachers about emergencies
in children. Sapien et al21 demonstrated that schoolteachers’
confidence level in recognizing respiratory
distress in asthmatic children and knowledge of
asthma medications improved after attending an education
session consisting of video footage and didactic
teaching.
Our demographic data pertaining to the number
and type of life-threatening emergencies is similar to
previously published data. Sapien and Allen5 reported
that 67% of the schools in New Mexico activate
the EMS system yearly, which is similar to our
data (68%). Knight et al22 reported that injuries account
for a majority of school-based EMS calls and
that the 2 most documented medical complaints requiring
EMS activation were breathing difficulty and
seizures. Similarly, our data demonstrate that 4 of
the 6 most common reported school emergencies
were related to trauma (extremity sprain, extremity
fracture, head/neck injury, laceration), whereas
shortness of breath and seizures were the most common
medical complaints.
Our study has several limitations. Although only
69% of the questionnaires were returned completed,
we feel that the data obtained represent both a diverse
group of school nurses in their experience and
schools in their population, grades represented, setting,
and funding classification. Although 81% of
the surveyed school nurses work in a school described
as rural or suburban, this corresponds with
national data collected by the National Center for
Educational Statistics (74% of 95 920 schools nationally).
23 Our survey was sent only to school nurses;
therefore, these data do not include schools without
a designated school nurse. In particular, schools with
small enrollment that either do not have the need or
the financial resources to employ a full-time or parttime
school nurse were not surveyed.
As with most surveys, responding to clinical scenarios
in a questionnaire format may not reflect the
true practice in real time of a school nurse responding
to a life-threatening emergency. Although the
questionnaire has not been validated to measure the
www.pediatrics.org/cgi/doi/10.1542/peds.2005-1474 e743
Downloaded from pediatrics.aappublications.org at Indonesia:AAP Sponsored on October 6, 2014
preparedness of schools or its effect on the morbidity
or mortality of children who experience life-threatening
emergencies, it does reflect how compliant
schools in the United States are with nationally recommended
guidelines at the time of the survey and
identifies areas of improvement. Although we surveyed
school nurses on the presence of an MERP for
children with special needs, we did not ask whether
they specifically used the universally accepted
“Emergency Information Form for Children With
Special Needs” standardized form as recommended
by the American College of Emergency Physicians
and the AAP.6 Last, although we inquired about the
presence of an MERP specifically for mass casualty,
we did not ask specific questions concerning the
handling, identification, response, and decontamination
for acts of chemical, biological, and radiologic
terrorism as recommended by the National Advisory
Committee on Children and Terrorism24 or measure
the confidence of school nurses to assess and manage
potential life-threatening emergencies specific to terrorism.
CONCLUSIONS
Our data demonstrate that although school nurses
reported that their schools, for the most part, were in
compliance with recommendations by the APA and
AHA, several areas for improvement exist. Practicing
the MERP several times a year, linking all areas
of the campus directly with EMS, and assigning roles
among school staff when faced with a life-threatening
emergency would improve the preparedness of
schools. Only one third of schools have AEDs. Efforts
are needed to increase AED availability in schools
and the confidence of school nurses to deal with
cardiopulmonary arrest. Efforts also should increase
the education of school nurses in the assessment and
management of other life-threatening emergencies
for which they have less confidence, particularly
overdose, seizures, heat illness, and head injury. We
recommend that communities, including physicians,
EMS staff, and school staff members, assess their
current state of school preparedness several times
during the school year and ensure compliance with
these published guidelines to improve the care of
children while in school.
APPENDIX
Potential Pediatric School Emergencies
• A 7-year-old with history of asthma who is complaining
of chest tightness, is tachypneic, and is in
moderate respiratory distress.
• An 8-year-old found unconscious after choking on
a hot dog.
• A 6-year-old with a large scalp laceration and open
fracture of the left ankle after a fall in a stairwell.
• An 18-year-old with difficulty breathing and swallowing
and moderate facial swelling after being
stung by a bee.
• A 9-year-old with diabetes found unconscious,
pale, and sweaty with fine shaking of the extremities
and weak pulse.
• A 12-year-old who collapsed suddenly on the
playground and is unconscious, pale, pulseless,
and apneic.
• A 14-year-old who is conscious but vomiting after
swallowing an unknown number of pills.
• A 5-year-old with a ventriculoperitoneal shunt
and tracheostomy who is having a prolonged seizure
and vomiting.
• A 16-year-old football player who is complaining
of headache and muscle cramps after practice,
who appears weak with red, hot, dry skin and
cool, clammy hands and who subsequently loses
consciousness on the playing field.
• A 10-year-old who is unconscious but breathing
after falling off of the monkey bars and landing on
his head.
ACKNOWLEDGMENTS
We thank the New Jersey Department of Health and Senior
Services for financial support of this project.
We thank Ted Kovacev, MD, for technical support and Nancy
Kelly-Goodstein for supervision.
REFERENCES
1. American Academy of Pediatrics, Committee on School Health. Guidelines
for emergency medical care in school. Pediatrics. 2001;107:435–436
2. American Heart Association. Response to cardiac arrest and selected
life-threatening medical emergencies: the medical emergency response
plan for schools. Circulation. 2004;109:278–291
3. Hohenhaus SM. Pediatric emergency preparedness in schools: a report
from the 2001 Southeastern Regional EMSC Annual Meeting. J Emerg
Nurs. 2001;27:353–356
4. Allen K, Ball J, Helfer B. Preventing and managing childhood emergencies
in schools. J Sch Nurs. 1998;14:20–24
5. Sapien RE, Allen A. Emergency preparation in schools: a snapshot of a
rural state. Pediatr Emerg Care. 2001;17:329–333
6. American Academy of Pediatrics, Committee on Pediatric Emergency
Medicine. Emergency preparedness for children with special health care
needs. Pediatrics. 1999; 104(4). Available at: www.pediatrics.org/cgi/
content/full/104/4/e53
7. American Academy of Pediatrics, Committee on Pediatric Emergency
Medicine. The pediatrician’s role in disaster preparedness. Pediatrics.
1997;99:130–133
8. American Academy of Pediatrics, Committee on Environmental
Health and Committee on Infectious Disease. Chemical-biological
terrorism and its impact on children: a subject review. Pediatrics.
2000;105:662– 670
9. American Academy of Pediatrics, Committee on Environmental Health.
Radiation disasters and children. Pediatrics. 2003;111:1455–1466
10. Gagliardi M, Neighbors M, Spears C, Byrd S, Snarr J. Emergencies in the
school setting: are public school teachers adequately trained to respond?
Prehospital Disaster Med. 1994;9:222–225
11. Dean AG, Arner TG. Epi Info 2002 [computer program]. Atlanta, GA:
Centers for Disease Control and Prevention; 2002
12. Bobo N, Hallenback P, Robinson J. Recommended minimal emergency
equipment and resources for schools: national consensus group report.
J Sch Nurs. 2003;19:150–156
13. Miller TR, Spicer RS. How safe are our schools? Am J Public Health.
1998;88:413–418
14. American Academy of Pediatrics, Committee on School Health. The
role of the school nurse in providing school health services. Pediatrics.
2001;108:1231–1232
15. American College of Emergency Physicians, School Health Task Force.
The role of emergency physicians in the care of the child in school. Ann
Emerg Med. 2000;35:155–161
16. Pediatric Advance Life Support Task Force, International Liaison Committee
on Resuscitation. Use of automated external defibrillators for
children: an update. Circulation. 2003;107:3250–3255
17. Maron BJ, Gohman TE, Aeppli D. Prevalence of sudden cardiac death
during competitive sport activities in Minnesota high school athletes.
J Am Coll Cardiol. 1998;32:1881–1884
18. Mueller FO, Cantu RC. NCCSIR Eighteenth Annual Report (National
Center for Catastrophic Sports Injury Research). Chapel Hill, NC: National
Center for Catastrophic Sports Injury Research; 2000
e744 EMERGENCY PREPAREDNESS OF SCHOOLS
Downloaded from pediatrics.aappublications.org at Indonesia:AAP Sponsored on October 6, 2014
19. US Department of Health and Human Services. Healthy People 2010:
Understanding and Improving Health Objectives for Improving Health. Vols
1 and 2. 2nd ed. Washington, DC: US Government Printing Office; 2000
20. Barrett JC. Teaching teachers about school health emergencies. J Sch
Nurs. 2001;17:316–322
21. Sapien RE, Fullerton-Gleason L, Allen N. Teaching school teachers to
recognize respiratory distress in asthmatic children. J Asthma. 2004;41:
739–743
22. Knight S, Vernon DD, Fines RJ, Dean JM. Prehospital emergency care
for children at school and nonschool locations. Pediatrics. 1999;103(6).
Available at: www.pediatrics.org/cgi/content/full/103/6/e81
23. Hoffman L, Sable J, Naum J, Gray D. Public Elementary and Secondary
Students, Staff, Schools, and Schools Districts: School Year 2002–03. Washington,
DC: US Department of Education; 2005. Available at: http://
nces.ed.gov/pubs2005/2005314.pdf. Accessed July 21, 2005
24. National Advisory Committee on Children and Terrorism. Schools
and terrorism: a supplement to the report of the National Advisory
Committee on Children and Terrorism. J Sch Health. 2004;74:39 –51
www.pediatrics.org/cgi/doi/10.1542/peds.2005-1474 e745
Downloaded from pediatrics.aappublications.org at Indonesia:AAP Sponsored on October 6, 2014
DOI: 10.1542/peds.2005-1474
Pediatrics 2005;116;e738
Robert P. Olympia, Eric Wan and Jeffrey R. Avner
Survey of School Nurses
The Preparedness of Schools to Respond to Emergencies in Children: A National
Services
Updated Information &
tml
http://pediatrics.aappublications.org/content/116/6/e738.full.h
including high resolution figures, can be found at:
References
tml#ref-list-1
http://pediatrics.aappublications.org/content/116/6/e738.full.h
at:
This article cites 18 articles, 9 of which can be accessed free
Citations
tml#related-urls
http://pediatrics.aappublications.org/content/116/6/e738.full.h
This article has been cited by 6 HighWire-hosted articles:
Subspecialty Collections
eparedness_sub
http://pediatrics.aappublications.org/cgi/collection/disaster_pr
Disaster Preparedness
_medicine_sub
http://pediatrics.aappublications.org/cgi/collection/emergency
Emergency Medicine
the following collection(s):
This article, along with others on similar topics, appears in
Permissions & Licensing
ml
http://pediatrics.aappublications.org/site/misc/Permissions.xht
tables) or in its entirety can be found online at:
Information about reproducing this article in parts (figures,
Reprints
http://pediatrics.aappublications.org/site/misc/reprints.xhtml
Information about ordering reprints can be found online:
rights reserved. Print ISSN: 0031-4005. Online ISSN: 1098-4275.
Grove Village, Illinois, 60007. Copyright © 2005 by the American Academy of Pediatrics. All
and trademarked by the American Academy of Pediatrics, 141 Northwest Point Boulevard, Elk
publication, it has been published continuously since 1948. PEDIATRICS is owned, published,
PEDIATRICS is the official journal of the American Academy of Pediatrics. A monthly
Downloaded from pediatrics.aappublications.org at Indonesia:AAP Sponsored on October 6, 2014
kesiapan perawat sekolah
RESUME
KESIAPAN SEKOLAH UNTUK MERESPON DARURAT PADA ANAK DI NASIONAL SURVEI PERAWAT SEKOLAH
S1 KEPERAWATAN
STIKES YOGYAKARTA
2014/2015
1. Latar belakang
Penanganan medis darurat di sekolah belum bisa di pastikan untuk mengobati penyakit pada anak yang khususnya pada penyakit pernafasan,sakit panas,asma,kejang dan cedera kepala serta kecelakaan di sekolah.sehingga pihak sekolah harus lebih tanggap tentang kesehatan anak dengan meningkatkan lagi program kesehatan sekolah,agar anak – anak sekolah dengan nyaman tanpa resiko penyakit ,maka di adakan kunjungan perawat ke tiap sekolah untuk meningkatkan kesehatan anak di sekolah.
2. Pembahasan
Sekolah perawat di percaya mampu menangani penyakit pada anak sekolah seperti penyakit pernapasan,Dan pendarahan hebat. Tpi kurang percaya diri dalam menangani penyakit kejang,overdosis,sakit panas,cedera kepala dan jantung .sehingga harus membutuhkan perawat khusus dengan di rancang sebuah MERP(program kesehatan) untuk penyakit tersebut.MERP setiap tahun nya beberapa kali mengadakan latihan kesehatan di tiap daerah sekolah untuk meningkatkan ketersediaan tanggap darurat di sekolah dan membuat perawat sekolah lebih percaya diri dalam menangani masalah kesehatan pada anak sekolah. MERP juga membuat program baru kesehatan sekolah seperti AAP dan AHA untuk memeriksa kesiapan sekolah terhadap medis darurat pada anak sekolah dan merespon bencana masal potensial.
3. Metode
Bagian kuesioner telah di kembangkan untuk menentuan kesiapan sekolah terhadap keadaan medis darurat yang mengancam anak sekolah ,bagian pertama mencakup 20 pertanyaan yang pertama berfokus pada 1. latar belakang klinis perawat sekolah,2. pada demografis dari sekolah, 3. Pada frekuensi dilaporkan sendiri darurat medis dan psikiattris, 4. Kesiapan sekolah untuk mengelola keadaan darurat yang mengancam jiwa. Bagian kedua meliputi 10 skenario klinis (lampiran) mengukur ketersediaan peralatan darurat dan tingkat kepercayaan perawat sekolah. Pada bulan desember 2004 para kuesioner dikirimkan kepada 1000 anggota yang di pilih secara acak dari NASN, lalu mailing kedua dikirim bulan januari 2005 analisis data terhadap perawat sekolah di lingkungan sekolah tunggal.
4. Hasil
Dari 1.000 kuesioner yang dikirim, 21 dikembalikan sebagai "tidak terkirim." Dari sisa 979 kuesioner, 675 (69%) dikembalikan. Seratus dua kuesioner yang dikembalikan dikeluarkan (37 responden pensiun, 19 responden tidak lagi bekerja di lingkungan sekolah, 20 responden bekerja di> 1 sekolah, dan 26 responden bekerja di sebuah distrik sekolah sebagai administrator), yang meninggalkan 573 kuesioner yang tersedia untuk analisis.Sebagian besar tanggapan berasal dari perawat terdaftar berlatih selama> 5 tahun dalam pengaturan pedesaan atau pinggiran kota . Menanggapi perawat sekolah diwakili 49 negara (kecuali Alaska) dan District of Columbia. Para darurat sekolah dilaporkan paling umum adalah keseleo ekstremitas dan sesak napas Peringkat sekolah perawat keadaan darurat yang paling umum sekolah terkait tidak berbeda secara signifikan pada tingkat kepercayaan 95% antara dalam kota dan pengaturan sekolah pedesaan / pinggiran kota. Ketika dikelompokkan berdasarkan dalam kota dan pedesaan / pengaturan pinggiran kota, kepercayaan dilaporkan sekolah perawat tidak berbeda secara signifikan. Ketika membandingkan tingkat pengalaman, perawat sekolah dengan ≤5 tahun pengalaman dan orang-orang dengan> 5 tahun pengalaman melaporkan tingkat yang sama kepercayaan dalam semua skenario kecuali dalam pengelolaan anak diabetes shock, di mana perawat lebih berpengalaman melaporkan keyakinan yang lebih besar . Oleh karena itu, peningkatan kesiapan
sekolah untuk menangani keadaan darurat yang mengancam jiwa
harus mencakup meningkatkan frekuensi latihan
dari MERP (untuk mengidentifikasi hambatan potensial dan
daerah untuk perbaikan), yang menghubungkan semua area kampus
langsung dengan EMS melalui berbagai sarana
komunikasi (telepon selular, walkie-talkie,
alarm, sistem interkom), dan peran menunjuk
antara staf sekolah priori untuk potensi mengancam jiwa
darurat (mengelola obat, berkomunikasi
dengan EMS dan departemen darurat lokal,
menghubungi anggota keluarga). Peningkatan kesiapan sekolah
untuk menangani keadaan darurat yang mengancam jiwa membutuhkan
komitmen seluruh masyarakat,AAP telah mengharuskan 14 dokter untuk mengambil peran dalam masyarakat setempat dan pengembangan protokol pediatrik pra-rumah sakit, melatih responden pertama dalam penilaian pediatrik dan
CPR, dan, dalam hal bencana, berpartisipasi dalam
masyarakat atau rumah sakit bencana Darurat
dokter juga harus terlibat dalam pengembangan
dan organisasi sistem untuk pencegahan
darurat yang mengancam kehidupan di sekolah.
5. Kesimpulan
Pihak sekolah harus meningkatkan
pendidikan sekolah perawat dalam penilaian dan
manajemen darurat yang mengancam jiwa lainnya
yang mereka memiliki lebih sedikit percaya diri, terutama
overdosis, kejang, sakit panas, dan cedera kepala. Kami
merekomendasikan bahwa masyarakat, termasuk dokter, dengan mengikuti pelatihan kesehatan MERP dan bagian kesehatn lainnya agar kesiapan medis darurat lebih baik untuk menjami kesehatan anak sekolah.
6. Daftar pustaka
html
http://pediatrics.aappublications.org/content/116/6/e738.full.html
http://pediatrics.aappublications.org/content/116/6/e738.full.h tml#ref-list-1
http://pediatrics.aappublications.org/content/116/6/e738.full.html
http://pediatrics.aappublications.org/cgi/collection/emergency _medicine_sub
http://pediatrics.aappublications.org/cgi/collection/disaster_pr eparedness_sub
http://pediatrics.aappublications.org/site/misc/Permissions.xhtml
http://pediatrics.aappublications.org/site/misc/reprints.xhtm
Minggu, 12 Oktober 2014
KESEHATAN DI LINGKUNGAN SEKOLAH
KEMITRAAN ANTARA PUSKESMAS DENGAN SEKOLAH DASAR DALAM
KEGIATAN USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS)
STUD1 KASUS Dl WILAYAH KERJA PUSKESMAS JABON,
KECAMATAN JOMBANG, KABUPATEN JOMBANG JAWATIMUR, TAHUN 2004
Umi Muzakkiroh*, Paiman Suparmanto*, Setia Pranata*, Yurika Fauzia Wardhani*
ABSTRACT
Health Promoting School Program is an integrated inter-programs and inter-sectors for preparing qualified human
resources in the future. The success of this program mainly depends on partnership between institutions related, especially
Community Health Center and schools in their work areas. This study aims to identify activities that have been done by
Jabon Community Health Center in Jombang District - East Java and 4 schools in its work areas, respectively; the ongoing
partnership and development of partnership between the Community Health Centers and the schools on Health Promoting
School Program. Data collected by secondair data, depth interview, and interactive-discussion. The data were analyzed
descriptively.
Results showed the Health Promoting School Program done by Jabon Community Health Center were health screening,
immunization, health education, and school health sanitation but the health education and school health sanitation were
not given regularly. Furthermore, the activities were not provided to all schools in the Community Health Center's work
areas. Health Promoting School activities done by the 4 schools were emergency and first aid, health education based on
school curriculums. The ongoing partnership between the Community Health Center and the schools was not done regularly
andjust when the Community Health Center staffs visited the schools. The Jabon Community Health Center has not invited
schools in its work areas to develop Health Promoting School Program plan and otherwise. To develop Health Promoting
School Program, the Jabon Community Health Center and the 4 schools were agreed to enhance the partnership by dividing
duties for each institution, respectively. The Jabon Community Health Center would concentrate on health services activities
meanwhile the schools on health education and building on school health sanitation. Community Health Center would be
the consultant for the Health Promoting School Program activities.
Key words: health promoting school program, partnership
A. PENDAHULUAN
Pembinaan kesehatan anak usia sekolah
merupakan langkah strategis dalam rangka
menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas
di masa depan. Upaya ini dapat dilakukan melalui
program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kegiatan
pokok program UKS, dikenal dengan istilah Trias UKS,
meliputi: 1) Pelayanan kesehatan di sekolah;
2) Penyuluhanlpendidikan kesehatan di sekolah; dan
3) Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah yang
sehat. Kegiatan UKS harus dilakukan di semua jenjang
pendidikan, mulai tingkat taman kanak-kanak, sekolah
dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sampai
sekolah menengah umum dan kejuruan, baik yang
berada di bawah binaan Departemen Pendidikan
Nasional maupun Departemen Agama, temasuk
pondok pesantren dan jalur pendidikan luar sekolah.
Program UKS juga harus dilaksanakan di Sekolah
Luar Biasa (SLB) yaitu sekolah yang diperuntukkan
bagi anak-anak cacat (Menteri Dalam Negeri, 2003).
Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di
Indonesia sudah ada sejak jaman penjajahan Hindia
Belanda. Pada saat itu kegiatannya berupa 1 ) higiene
sanitasi yang bertujuan untuk penataan bangunan dan
sanitasi sekolah, dan 2) imunisasi sebagai upaya
pemberantasan penyakit menular, khususnya cacar.
Kegiatan itu hanya dilaksanakan di sekolah-sekolah
tertentu dan terbatas di beberapa kota saja. Pada
tahun 1950, Pemerintah Republik lndonesia merintis
kembali kegiatan UKS yang selama penjajahan
Peneliti Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan
Buletin.Penelitian Sistem Kesehatan-Vol. 8 No. 2 Desember 2005: 59-66
Jepang dihentikan. Tahun 1956, mulai dilakukan
kerjasama antar departemen dalam pelaksanaan
program UKS, yaitu antara Departemen Kesehatan,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan
Departemen Dalam Negeri dengan diselenggarakannya
Proyek UKS Perkotaan di Jakarta dan UKS
Pedesaan di Bekasi. Pada tahun 1980 kerjasama ini
ditingkatkan dalam bentuk Keputusan Bersama
Menteri Pendidikan & Kebudayaan RI dan Menteri
Kesehatan RI tentang pembentukan kelompok kerja
Usaha Kesehatan ~ ~ k o l (aUhKS ). Pada tahun 1982,
kerjasama ini diperluas dengan melibatkan
Departemen Agama, guna pembinaan kesehatan
siswa yang ada di institusi pendidikan yang bernaung
di bawah Departemen Agama (Departemen
Kesehatan, 1983). Kerjasama tersebut
disempurnakan lagi pada tahun 2003, dengan
dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB)
Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan Nasional,
Menteri Kesehatan dan Menteri Agama tentang
Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan
Sekolah.
Program UKS merupakan upaya terpadu lintas
sektor dan lintas program dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan serta membentuk perilaku hidup
bersih dan sehat para siswa. Pelaksanaan program
ini tidak bisa berjalan dengan baik bila hanya
dibebankan pada instansi kesehatan saja, terutama
Puskesmas. Keterbatasan dana dan tenaga, membuat
Puskesmas tidak selalu bisa melaksanakan seluruh
kegiatan di semua sekolah yang ada di wilayah
kerjanya. Penelitian mengenai pelaksanaan UKS di
tingkat kecamatan di Kabupaten Jombang
menunjukkan bahwa kunjungan Puskesmas ke
sekolah dasar rata-rata tiga kali dalam setahun, yaitu
pada saat melakukan skrining/penjaringan, pemberian
imunisasi Diphteri Tetanus (DT)llTertanus Toxoid
(lT)l, dan pemberian imunisasi DT2lTT2. Sedikitnya
jumlah kunjungan ini karena keterbatasan dana dan
tenaga yang ada di Puskesmas.(Budianto, 1997). Agar
program UKS dapat berjalan di semua sekolah
diperlukan kerjasama antar instansi yang terkait,
pelaksanaan program UKS. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai
kegiatan UKS yang dilakukan di sekolah dasar, baik
yang dilakukan oleh sekolah tersebut maupun yang
dilakukan oleh Puskesmas, hubungan kemitraan
antara Puskesmas dengan sekolah dasar dalam
pelaksanaan program UKS dan upaya pengembangannya
di masa yang akan datang.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja
Puskesmas Jabon, Kecamatan Jombang, Kabupaten
Jombang, JawaTimur, yang melibatkan Tim UKS dari
Puskesmas Jabon dan empat sekolah dasar yang ada
di wilayah kerjanya. Saat ini tidak semua Puskesmas
melaksanakan kegiatan UKS, karena berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 128/Menkes/SW11/2004 tentang Kebijakan
dasar Pusat Kesehatan masyarakat, kegiatan UKS
bukan merupakan program yang wajib dikerjakan oleh
Puskesmas. Pertimbangan dipilihnya Puskesmas
Jabon sebagai subyek penelitian adalah karena
Puskesmas Jabon merupakan salah satu Puskesmas
yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten
Jombang untuk melaksanakan program UKS sebagai
salah satu upaya kesehatan pengembangan.
Penelitian ini merupakan studi eksploratif, dengan
menggali data mengenai program UKS yang
dilaksanakan di sekolah dasar, baik yang dilaksanakan
oleh Puskesmas maupun oleh sekolah yang
bersangkutan, kemitraan antara Puskesmas dan
Sekolah Dasar dalam kegiatan UKS dan kemungkinan
pengembangan kemitraan di antara keduanya dalam
kegiatan UKS tersebut. Pengumpulan data dilakukan
dengan penelusuran data sekunder untuk mengetahui
cakupan kegiatan UKS Puskesmas Jabon dan
wawancara mendalam dengan petugas UKS dari
Puskesmas dan sekolah untuk mengetahui proses
kemitraan yang sudah terjalin diantara kedua belah
pihak dalam kegiatan UKS. Data yang diperoleh
dianalisa secara deskriptif.
khususnya antara Puskesmas dengan sekolah yang
bersangkutan.
HASlL PENELlTlAN
Penelitian ini bertujuan mempelajari kemitraan Keadaan Wilayah Puskesmas Jabon
antara Puskesmas dan sekolah dasar dalam kegiatan Puskesmas Jabon merupakan salah satu dari
UKS, dan kemungkinan pengembangan hubungan empat Puskesmas yang ada di Kecamatan Jombang.
kemitraan diantara keduanya untuk meningkatkan Wilayah kerja Puskesmas Jabon meliputi lima
Kemitraan antara Puskesmas dengan Sekolah Dasar (Umi Muzakkiroh, dkk)
kelurahanldesa, yaitu Jabon, Sengon, Tunggorono,
Jombatan, dan Kepatihan. Program UKS ditetapkan
sebagai salah satu upaya kesehatan pengembangan
yang dilakukan di Puskesmas Jabon, dengan
pertimbangan di wilayah kerja Puskesmas Jabon
terdapat banyak sekolah, baik sekolah umum maupun
agama, dan dari tingkat taman kanak-kanak sampai
sekolah lanjutan tingkat atas.
Tabel 1. ~arana pendidikan di wilayah kerja
Puskesmas Jabon
No. Sarana Pendidikan Jumlah
1. Kelompok BermainIPlay Group 5
2. Taman Kanak-kanakIRaudlatuI 15
Athfal
3. Sekolah Dasarhladrasah 18
lbtidaiyah
4. Sekolah Menengah 4
Pertamahladrasah
Tsanawiyah
5. Sekolah Menengah 6
UmumIMadrasah Aliyah
6. Sekolah Menengah Kejuruan 9
Jumlah 57
Program UKS di Puskesmas Jabon dilaksanakan
oleh tim UKS Puskesmas yang dipimpin oleh Kepala
Puskesmas yang sekaligus sebagai dokter
Puskesmas, dan beranggotakan dokter gigi, perawat,
petugas gizi, petugas sanitasi dan bidan. Seharusnya
Puskesmas Jabon melaksanakan kegiatan UKS di
semua sekolah yang menjadi binaannya, namun ha1
ini tidak dapat terlaksana karena keterbatasan tenaga
kesehatan dan anggaran yang dimiliki Puskesmas.
Saat ini Puskesmas Jabon lebih memprioritaskan
program UKS di tingkat sekolah dasar, terutama pada
kegiatan imunisasi dan penjaringan.
Kegiatan UKS selain di Sekolah Dasar hanya
dilakukan bila ada permintaan dari sekolah yang
bersangkutan. Misalnya bila ada sekolah yang
menginginkan diadakan pemeriksaan kesehatan
maupun pemberian penyuluhan kesehatan kepada
siswanya atau sekolah tersebut terpilih untuk
mengikuti lomba sekolah sehat, maka biasanya
Puskesmas Jabon diminta memberikan pembinaan.
Bila sekolah yang bersangkutan mengundang
Puskesmas Jabon untuk melakukan kegiatan UKS di
sekolahnya, maka sekolah tersebut akan
menanggung biaya penyelenggaraannya dan
Puskesmas Jabon selalu berusaha dapat memenuhi
Sumber: Data dasar Puskesmas Jabon tahun 2003 permintaan tersebut.
Tabel 2. Data kegiatan UKS Puskesmas Jabon
No. Keaiatan Jumlah Persentase*
1. SDIMI dengan penjaringan 18 100
2. SMTPIMTs dengan kegiatan penjaringan 0 0
3. SMTNMA dengan kegiatan penjaringan 0 0
4. SDIMI yang punya kader UKS 1 5
5. SMTPIMTs yang punya kader kesehatan remaja 0 0
6. SMTA/MA yang punya kader kesehatan remaja 0 0
7. SDNI yang diperiksa keslingnya 18 100
8. SMTPIMTs yang diperiksa keslingnya 3 75
9. SMTAIMA yang diperiksa keslingnya 2 13,3
10. SD/MI dengan kantin yang dibina 18 1 00
11. SMTPIMTs dengan kantin yang dibina 1 25
12. SMTNMA dengan kantin yang dibina 0 0
13. SDIMI dengan dana sehat 0 0
14. SMTPhlTs dengan dana sehat 0 0
15. SMTNMA dengan dana sehat 0 0
16. SDIMI yang punya ruang UKS 2 11,1
17. SMTPhlTs yang punya ruang UKS 2 50
1.8. SMTA/MA yang punya ruang UKS 5 33,3
Sumber: Laporan tahunan kegiatan UKS Puskesmas.Jabon tahun 2003.
Dari semua sekolah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Jabon, Jombang.
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan-Vol. 8 No. 2 Desember 2005: 59-66
Kegiatan UKS yang dilakukan Puskesmas Jabon
Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi
belajar peserta didik dengan meningkatkan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan derajat kesehatan
peserta didik maupun warga belajar serta menciptakan
lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan
pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan
optimal dalam rangka pembentukan manusia
Indonesia seutuhnya. Biasanya dalam setahun
Puskesmas Jabon melakukan dua kali kunjungan ke
setiap Sekolah DasarIMadrasah lbtidaiyah yang ada
di wilayah kerjanya, yaitu pada bulan Agustus dan
November. Kegiatan yang dilakukan dalam kunjungan
tersebut adalah:
Penjaringadskrlnlng
Penjaringanlskrining dimaksudkan untuk
mendeteksi secara dini terhadap kelainanlgangguan
kesehatan yang dialami siswa, sehingga dapat diobati
atau direhabilitasi secepatnya dan mencegah keadaan
yang lebih gawat. Kegiatan yang dilakukan meliputi
pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan gigi
dan mulut, mata, telinga, rambut, kuku dan kulit.
Kegiatan ini dilakukan setiap bulan Agustus, dengan
sasaran siswa kelas satu. Bila dalam penjaringan
ditemukan siswa yang menderita gangguan
kesehatan, maka siswa tersebut akan dirujuk ke
Puskesmas, dengan membawa pengantar dari
sekolah tanpa dipungut biaya. Namun bila siswa
tersebut perlu dirujuk ke rumah sakit maka biaya
dibebankan kepada siswa yang bersangkutan.
Puskesmas Jabon selalu melaksanakan kegiatan ini
pada semua sekolah dasar yang menjadi binaannya.
Pembinaan lingkungan sekolah.
Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan
pelaksanaan penjaringan. Kegiatan yang dilakukan
meliputi pembinaan kesehatan lingkungan sekolah,
yang terdiri dari kebersihan ruang kelas, halaman,
kamar mandiNVC, dan kantin sekolah.
Imunisasl anak sekolah.
lmunisasi untuk anak sekolah dilakukan pada
bulan November, bertepatan dengan Bulan lmunisasi
Anak Sekolah (BIAS). lmunisasi yang diberikan adalah
imunisasi Diphteri Tetanus (DT) untuk siswa kelas satu
dan imunisasi Tetanus Toxoid (lT) untuk kelas dua dan
tiga. Kegiatan ini selalu dilaksanakan pada semua
sekolah dasar yang ada di wilayah kerja Puskesmas
Jabon.
62
Penyuluhan kesehatan
Penyuluhan kesehatan untuk siswa biasanya
dilakukan sekaligus pada saat Tim UKS Puskesmas
Jabon mengunjungi sekolah untuk melaksanakan
kegiatan penjaringan dan imunisasi anak sekolah.
Kegiatan ini terkesan hanya sebagai pelengkap,
karena tidak dijadwalkan secara khusus, dan
pelaksanaannya seringkali menyesuaikan dengan
kegiatan penjaringan dan imunisasi yang memang
telah dijadwalkan setiap-tahun. Misalnya pada saat
penjaringan, penyuluhan hanya diberikan pada siswa
kelas satu. Pelaksanaannya, sebelum dilakukan
pemeriksaan kesehatan biasanya diberikan
penyuluhan secara singkat kepada siswa mengenai
masalah kebersihan pribadi dan kesehatan
lingkungan. Demikian juga penyuluhan kesehatan
yang dilakukan pada bulan November saat pemberian
imunisasi untuk anak sekolah. Pelaksanaannya, pada
saat siswa kelas satu, dua dan tiga diimunisasi, siswa
kelas empat, lima dan enam dikumpulkan untuk
mendapat penyuluhan. Materi penyuluhan biasanya
tentang gizi, yang meliputi makanan sehat dan
manfaatnya, dan tentang kesehatan lingkungan, yang
meliputi kebiasaan buang air kecillbesar di WC,
kebiasaan membuang sampah di tempat sampah dan
bahaya pencemaran lingkungan. Penyuluhan ini
biasanya diberikan oleh petugas gizi dan sanitasi.
Namun kegiatan ini juga tidak selalu bisa dilakukan di
semua sekolah yang dikunjungi, tergantung situasi dan
kondisi saat itu.
Dalam melaksanakan program UKS Puskesmas
Jabon mengalami beberapa hambatan. Hambatan itu
antara lain keterbatasan sumber daya, padahal
sasaran yang harus dicapai cukup banyak.
Pelaksanaan kegiatan UKS juga harus menyesuaikan
dengan jadwal belajar di sekolah dasar. Misalnya
karena siswa kelas satu pulang jam 09.30 maka
pelayanan kepada siswa kelas satu harus dilakukan
pagi hari sebelum pulang, sehingga dalam satu hari
tim UKS Puskesmas Jabon hanya dapat menjangkau
satu sekolah. Pelaksanaan kegiatan UKS biasanya
sudah dijadwalkan secara serentak, yaitu bulan
Agustus untuk penjaringan dan bulan November untuk
imunisasi. Agar dapat menjaring semua sekolah dasar,
pada bulan-bulan tersebut Puskesmas kadangkadang
terpaksa mengorbankan pelayanan kesehatan
yang lain, seperti posyandu dan pelayanan di
Puskesmas. Hambatan lain yang dirasakan adalah
semakin berkurangnya poster dan alat peraga untuk
Kemitraan antara Puskesmas dengan Sekolah Dasar (Umi Muzakkiroh, dkk)
penyuluhan yang diberikan Dinas Kesehatan dan
keterbatasan anggaran Pemerintah untuk
melaksanakan program UKS. Sejak beberapa tahun
terakhir ini Puskesmas tidak pernah lagi melakukan
pelatihan dokter kecil karena tidak ada proyek dari
Dinas Kesehatan, walaupun kegiatan ini sangat
diharapkan oleh pihak sekolah.
Kegiatan UKS yang Dllakukan Sekolah
Selain merupakan program Puskesmas, Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS) juga merupakan program
di tiap sekolah. Penanggung jawab kegiatan UKS di
sekolah adalah guru UKS yang dirangkap oleh guru
olah raga.
Di empat sekolah dasar yang dijadikan lokasi
penelitian, kegiatan UKS yang dilaksanakan oleh
sekolah tersebut adalah sebagai berikut:
Pendidikan kesehatan kepada siswa
Sesuai dengan kurikulum pendidikan untuk
sekolah dasar tahun 2004, materi tentang kesehatan
tidak diajarkan dalam mata pelajaran tersendiri, tetapi
menjadi bagian dari mata pelajaran Sains yang
diajarkan mulai kelas Ill sampai kelas VI. Untuk kelas
I dan II, materi tentang kesehatan diintegrasikan ke
dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Biasanya
materi ini dijadikan tema dalam bahan bacaannya.
Diluar mata pelajaran tersebut guru juga sering
memberikan nasehat tentang kesehatan.
Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)
Keempat sekolah dasar ini tidak memiliki ruang
UKS khusus, tetapi memiliki peralatan P3K dan
terdapat tempat tidur untuk istirahat. Bila ada siswa
yang sakit di sekolah, pihak sekolah akan memberikan
pertolongan pertama dan bila dirasa perlu akan dirujuk
ke puskesmas tanpa memungut biaya dari siswa.
Pemeriksaan kuku dan rambut secara berkala
Kegiatan ini biasanya dilakukan seminggu sekali
pada siswa kelas I dan II.
Pembinaan lingkungan sehat sekolah
Pembinaan yang dilakukan adalah pengawasan
kebersihan lingkungan sekolah, meliputi halaman
sekolah, ruang kelas, jambanNVC, penyediaan air
bersih dan kantin sekolah. Untuk menjaga kebersihan
ruang kelas, dibentuk piket harian yang bergiliran dari
semua siswa. Untuk menjaga kebersihan halaman
sekolah, sumur, kamar mandi dan WC, semua
sekolah menugaskan seorang petugas kebersihan
khusus. Diantara empat sekolah, hanya dua yang
memiliki kantin sekolah, dan sekolah tersebut ikut
mengawasi kebersihan kantin dan jajanan yang dijual
di kantin. Baik di sekolah yang ada kantinnya maupun
tidak, banyak terdapat penjual makanan yang juga
diminati siswa. Sekolah tidak bisa melarang penjual
tersebut, karena mereka berjualan di luar pagar
sekolah. Sekolah juga tidak bisa mengontrol kualitas
makanan yang dijualnya. Untuk mengantisipasi ha1 ini,
guru sering memberi nasehat di kelas agar siswa bisa
memilih jajanan yang baik.
Berpartlsipasi dalam kegiatan UKS yang
dilakukan instansi kesehatan
Sekolah selalu siap membantu bila instansi
kesehatan melakukan kegiatan UKS untuk siswanya,
misalnya bila diadakan lomba sekolah sehat atau
ditunjuk mengikuti lomba UKS, sekolah bersedia
berpartisipasi. Demikian juga saat kegiatan imunisasi
atau penyuluhan oleh Puskesmas, sekolah selalu
membantu dengan menyediakan air panas dan
mengkoordinir siswanya.
Pihak sekolah mengeluhkan tidak adanya lagi
pelatihan dokter kecil oleh Puskesmas, sejak tiga
tahun terakhir. Saat ini semua sekolah tidak memiliki
dokter kecil, karena dokter kecil yang dulu pernah
dilatih sekarang sudah lulus. Pihak sekolah
menginginkan Puskesmas memberikan pelatihan
dokter kecil lagi.
Kemitraan Puskesmas dengan Sekolah Dasar
dalam Kegiatan UKS
Kesuksesan program UKS sangat ditentukan oleh
kemitraan antara instansi ya'ng terkait. Selama ini
hubungan kemitraan antara Puskesmas Jabon
dengan Sekolah Dasar yang ada di wilayah kerjanya
belum berjalan maksimal. Kerjasama biasanya hanya
terjadi pads saat Tim UKS Puskesmas Jabon
mengunjungi sekolah. Dalam menentukan rencana
kegiatan UKS, Puskesmas Jabon tidak pernah
melibatkan sekolah binaannya. Setiap tahun
Puskesmas Jabon menyusun perencanaan mengenai
kegiatan UKS yang akan dilakukan di sekolah.
Kegiatan tersebut adalah penjaringan, penyuluhan
kesehatan, imunisasi dan pembinaan kesehatan
lingkungan sekolah. Pelaksanaan semua kegiatan
tersebut menyesuaikan dengan turunnya anggaran
dari Pemerintah, dimana biasanya untuk penjaringan
dilakukan bulan Agustus dan imunisasi pada bulan
Buletin Penelii tian Sistem Kesehatan-Vol. 8 No. 2 Desember 2005: 59-66
November. Puskesmas Jabon tidak melibatkan
Sekolah Dasar dalam penyusunan rencana kegiatan
ini karena beranggapan bahwa kegiatan ini adalah
kegiatan yang rutin dilakukan di sekolah. Menjelang
pelaksanaan kegiatan, Puskesmas baru mengirimkan
surat pemberitahuan dan jadwal kegiatannya ke
sekolah. Demikian juga pihak sekolah, tidak penah
menginformasikan kegiatan UKS yang dilakukannya
kepada Puskesmas Jabon. Kedua belah pihak tidak
mkmpermasalahkan ha1 ini, karena saling memahami
beban kerja masing-masing.
Kurangnya koordinasi dan komunikasi ini kadangkadang
menimbulkan sedikit pernasalahan. Misalnya,
pelaksanaan UKS oleh Puskesmas Jabon biasanya
selalu dilaksanakan pada bulan Agustus dan
November, disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang
telah ditentukan dari Dinas Kesehatan. Padahal pada
bulan tersebut sekolah juga sedang sibuk dengan
kegiatan lain, seperti yang terjadi pada tahun 2004,
ketika dilakukan penjaringanlskrining, sekolah juga
sedang sibuk mempersiapkan kegiatan dalam rangka
peringatan HUT Proklamasi. Pada saat kegiatan
imunisasi yang dilakukan pada bulan November,
bertepatan dengan kegiatan Pondok Ramadlan dan
persiapan ujian tengah semester. Namun pihak
sekolah tetap bersedia menerima kunjungan Tim UKS
Puskesmas Jabon, karena menyadari manfaat
kegiatan ini bagi para siswa. Permasalahan yang lain
adalah terjadinya tumpang tindih antara materi
kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas dengan
yang disampaikan oleh guru. Hal ini baru disadari oleh
kedua belah pihak saat dilakukannya penelitian ini.
Materi penyuluhan yang biasanya diberikan oleh
Puskesmas, ternyata ada dalam kurikulum sekolah
dan sudah diajarkan ke siswa. Sebelum memberikan
penyuluhan, Puskesmas tidak menginformasikan
materi penyuluhan yang akan diberikan kepada siswa.
Demikian juga sebaliknya pihak sekolah juga tidak
pernah menginformasikan kepada Puskesmas materi
kesehatan yang sudah ada dalam kurikulum. Setelah
mengetahui ha1 ini, baik Puskesmas maupun sekolah
sepakat bahwa pada kegiatan penyuluhan kesehatan
yang akan datang, materi yang akan diberikan adalah
yang belum terdapat dalam kurikulum dan perlu
diketahui oleh siswa, seperti kesehatan reproduksi
remaja, bahaya rokok, minuman keras, narkotoka dan
obat terlarang lainnya.
Untuk meningkatkan kegiatan UKS, Puskesmas
Jabon dengan keempat Sekolah Dasar tersebut
sepakat untuk meningkatkan hubungan kerjasama
diantara keduanya. Bila selama ini Puskesmas
melakukan seluruh kegiatan pokok UKS, maka
nantinya Puskesmas akan berkonsentrasi pada
kegiatan pelayanan kesehatan, yaitu penjaringan dan
imunisasi anak sekolah. Kegiatan pendidikanl
penyuluhan kesehatan dan pembinaan lingkungan
sekolah akan dilakukan oleh pihak sekolah. Meskipun
demikian, selaku pembina teknis kesehatan,
Puskesmas tetap bersedia membantu kegiatan
tersebut. Puskesmas bersedia menyiapkan materi
penyuluhan, dan akan selalu membuka diri bagi guruguru
yang ingin berkonsulatsi masalah kesehatan. Bila
ada materi kesehatan yang tidak dikuasai guru dan
dianggap perlu diberikan kepada siswa, Puskesmas
siap bila diminta menyampaikan materi tersebut, atau
diminta memberikan semacam "pelatihan" mengenai
materi tersebut.
Tabel 3. Rencana pembagian tugas dalam kegiatan
UKS di sekolah dasar.
No. Kegiatan Puskesmas Sekolah
1. Penjaringan kesehatan
Pengukuran Tinggi X X
Badan dan Berat Badan
Pemeriksaan gigi, mulut X
Pemeriksaan mata, kulit X
2. lmunisasi X
3. Pendidikan kesehatan
' Penyusunan materi X X
Penyampaian materi X
4. Pembinaan lingkungan X
sekolah
Pihak sekolah tidak keberatan dengan pembagian
tugas ini, karena pada dasarnya kegiatan ini sudah
dilakukan di sekolah. Hanya saja untuk materi
penyuluhan yang tidak ada dalam kurikulum, sekolah
mengharapkan Puskesmas dapat memberikan
"pelatihan" lebih dulu kepada guru-guru.
B. PEMBAHASAN
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 128/Menkes/SW11/2004
tentang Kebijakan Dasar Puskesmas, program
kegiatan puskesmas dibagi dalam dua kelompok, yaitu
upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan
pengembangan. Upaya kesehatan wajib adalah
program yang harus dikerjakan oleh setiap
Kemitraan antara Puskesmas dengan Sekolah Dasar (Umi Muzakkiroh, dkk)
Puskesmas, sedangkan upaya kesehatan
pengembangan pelaksanaannya diserahkan kepada
Dinas Kesehatan masing-masing untuk menentukan
upaya apa yang akan dilaksanakan oleh suatu
Puskesmas berdasarkan permasalahan yang ada di
wilayah kerjanya. Puskesmas Jabon ditetapkan oleh
Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang sebagai
Puskesmas yang melaksanakan program Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai salah satu upaya
kesehatan pengembangan yang harus dilaksanakan.
Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa Puskesmas
Jabon memiliki tenaga yang dapat melaksanakan
kegiatan ini dan di wilayah kerjanya banyak terdapat
sekolah, dari tingkat taman kanak-kanak sampai
sekolah lanjutan tingkat atas. Namun kenyataannya
Puskesmas Jabon tidak dapat melaksanakan kegiatan
UKS di semua sekolah yang menjadi binaannya,
karena keterbatasan dana dan tenaga yang dimiliki.
Saat ini Puskesmas Jabon lebih mempriotaskan
kegiatan UKS di Sekolah Dasar, disesuaikan dengan
"proyek" yang diperoleh dari pemerintah. Kegiatan
UKS di tingkatan sekolah yang lain, biasanya dilakukan
apabila diminta oleh sekolah tersebut dan disediakan
dana untuk pelaksanaannya.
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah upaya
terpadu lintas sektor dan lintas program dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan dan membentuk
perilaku hidup bersih dan sehat para siswa.
Keberhasilan program UKS sangat dipengaruhi oleh
kemitraan antara instansilorganisasi yang terkait.
Kemitraan, berdasarkan definisi -Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2003, adalah
hubungan kerjasama antara individu-individu atau
kelompok-kelompok untuk mencapai suatu tujuan
terientu atau tugas tertentu berdasarkan kesetaraan,
keterbukaan dan saling menguntungkan. Dalam
kerjasama tersebut ada kesepakatan tentang
komitmen dan harapan masing-masing, tentang
peninjauan kembali terhadap kesepakatan yang telah
dibuat, dan berbagi baik dalam resiko maupun
keuntungan yang diperoleh. Proses kegiatan yang
perlu dilakukan dalam mengembangkan kemitraan
adalah penjajakan, penyamaan persepsi, pengaturan
peran, komunikasi intensif dan evaluasi (Depkes,
2003).
Hubungan antara Puskesmas Jabon dengan
sekolah dasar binaannya dalam kegiatan UKS selama
ini tidak melalui proses kemitraan di atas, karena
hubungan kerja sama hanya terjadi pada saat
Puskesmas mengunjungi sekolah. Dalam
melaksanakan kegiatan UKS, Puskesmas lebih sering
bekerja sendiri, peran sekolah hanya membantu
pelaksanaannya. Puskesmas yang menentukan jenis
keg iatan yang akan dilakukan, melaksanakan kegiatan
tersebut dan menentukan jadwalnya, meskipun
Puskesmas tetap memperhatikan jadwal belajar
siswa. Demikian juga sebaliknya, dalam kegiatan UKS
yang dilakukan oleh sekolah, Puskesmas hanya
bertindak apabila diminta oleh sekolah. Sudah
dilakukan peningkatan kerjasama antara Puskesmas
Jabon dengan sekolah dasar, tetapi belum
sepenuhnya mengacu pada konsep kemitraan.
Pengembangan kemitraan hanya diwujudkan dalam
bentuk pembagian tugas antara keduanya.
Puskesmas berkonsentrasi pada kegiatan penjaringan
dan imunisasi, sedangkan kegiatan pendidikan
kesehatan dan pembinaan lingkungan dilakukan oleh
sekolah.
Seyogianya dalam mengembangkan kemitraan,
selain ada kesepakatan pembagian tugas, antara
kedua belah pihak juga harus ada kesepakatan
mengenai rencana kegiatan yang akan dilakukan,
tujuan yang ingin dicapai bersama, kegiatan yang akan
dilakukan bersama, penentuan jadwal kegiatan, dan
bila memungkinkan berbagi dalam ha1 pendanaan.
Bila kemitraan yang seperti ini dapat berjalan,
Puskesmas Jabon akan memiliki kesempatan untuk
melakukan pembinaan terhadap semua sekolah yang
menjadi binaannya. Hubungan kemitraan antara
Puskesmas dan Sekolah Dasar sebaiknya juga
sepengetahuan Dinas Kesehatan dan Dinas
Pendidikan Nasional kabupaten setempat, selaku
instansi pembinanya.
C. KESIMPULAN
1. Kegiatan UKS yang dilakukan oleh Puskesmas
Jabon belum bisa menjangkau seluruh sekolah
yang ada di wilayah kerjanya, karena keterbatasan
tenaga dan dana, sedangkan sasaran yang harus
dicapai cukup banyak.
2. Kegiatan UKS yang dilakukan oleh Puskesmas di
Sekolah Dasar adalah penjaringan, penyuluhan
kesehatan, imunisasi dan pembinaan lingkungan
sekolah, sedangkan kegiatan UKS yang dilakukan
oleh sekolah meliputi pendidikan kesehatan,
pemeriksaan rambut dan kuku secara berkala,
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan dan
Buletin Penelii tian Sistem Kesehatan-Vol. 8 No. 2 Desember 2005: 59-66
berpartisipasi pada kegiatan UKS yang dilakukan
oleh instansi kesehatan.
3. Kemitraan antara Puskesmas dengan sekolah
dasar hanya terjadi pada saat Puskesmas Jabon
mengunjungi sekolah. Puskesmas Jabon belum
pernah melibatkan sekolah dalam merencanakan
kegiatan UKS yang akan dilakukan di sekolah,
demikian juga sebaliknya. Terjadi tumpang tindih
antara materi penyuluhan yang diberikan oleh
Puskesmas dengan materi tentang kesehatan
yang sudah diajarkan dalam kurikulum. Hal ini
disebabkan kurangnya komunikasi dan koordinasi
antara keduanya dalarn memberikan pendidikan
kesehatan kepada siswa.
4. Untuk meningkatkan kegiatan UKS, Puskesmas
Jabon dan keempat sekolah dasar sepakat untuk
meningkatkan kerjasama rnelalui pembagian tugas
diantara keduanya. Puskesrnas akan
berkonsentrasi pada kegiatan pelayanan
kesehatan, yaitu penjaringan dan imunisasi,
sedangkan kegiatan pendidikan kesehatan dan
pembinaan lingkungan kesehatan akan lebih
banyak dilakukan oleh sekolah yang bersangkutan.
Dalam ha1 ini peran Puskesmas lebih bersifat
sebagai "konsultan".
5. Mengacu pada prinsip kemitraan, maka hubungan
kerja antara Puskesmas jabon dengan sekolah
dasar binaannya belum bisa dikatakan sebagai
hubungan kemitraan, karena kerjasama yang
terjalin masih sebatas pembagian kerja.
D. SARAN
yang akan dilakukan di sekolah, sehingga dapat
diatur jadwal pelaksanaan dan tugas masingmasing.
2. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah program
lintas sektor dan lintas program. Untuk
meningkatkan kualitas kegiatan ini sebaiknya
Puskesmas Jabon tidak hanyg bermitra dengan
sekolah, tetapi juga melibatkan instansi lain yang
terkait, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan
Nasional, Pemerintah Daerah setempat dan
organisasi kernasyarakatan.
E. DAFTAR PUSTAKA
Budiarto, Wasis, et a/. 1997. Studi Komparasi Biaya
Pelayanan Kesehatan dasar UKS di Tingkat
Kecamatan, Surabaya, Pulitbang Pelayanan dan
Teknologi Kesehatan.
Indonesia. Departemen Kesehatan, 1 998. Pedoman Ketja
Puskesmas Puskesmas Jilid Ke Dua, Jakarta.
Indonesia. Departemen Kesehatan, 1983. Usaha
Kesehatan Sekolah Dalam Gambar, Jakarta.
Indonesia. Undang-undang, Peraturan, dsb., 2003.
"Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional,
Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri
dalam Negeri Republik Indonesia Nomor I/U/SKB/
2003, Nomor 1067/MENKESNI1/2000, Nomor MA/
230 M2003, Nomor 26 Tahun 2003 Tentang
Pembinaan Dan Pengembangan Usaha Kesehatan
Sekolah: Jakarta.
Kualitas Sumber Daya Manusia Ditentukan Pendidikan
dan Kesehatan. Web: http:~/www.dep~s.ao.id/
shownews.oho?oid=701.
Pusat Promosi Kesehatan, 2003. Kemitraan dengan Sektor
Swasta, Jakarta.
1. Puskesmas dengan sekolah perlu "duduk
bersarnan untuk membahas rencana kegiatan UKS
Langganan:
Postingan (Atom)