Senin, 13 Oktober 2014

kesiapan perawat sekolah

RESUME KESIAPAN SEKOLAH UNTUK MERESPON DARURAT PADA ANAK DI NASIONAL SURVEI PERAWAT SEKOLAH S1 KEPERAWATAN STIKES YOGYAKARTA 2014/2015 1. Latar belakang Penanganan medis darurat di sekolah belum bisa di pastikan untuk mengobati penyakit pada anak yang khususnya pada penyakit pernafasan,sakit panas,asma,kejang dan cedera kepala serta kecelakaan di sekolah.sehingga pihak sekolah harus lebih tanggap tentang kesehatan anak dengan meningkatkan lagi program kesehatan sekolah,agar anak – anak sekolah dengan nyaman tanpa resiko penyakit ,maka di adakan kunjungan perawat ke tiap sekolah untuk meningkatkan kesehatan anak di sekolah. 2. Pembahasan Sekolah perawat di percaya mampu menangani penyakit pada anak sekolah seperti penyakit pernapasan,Dan pendarahan hebat. Tpi kurang percaya diri dalam menangani penyakit kejang,overdosis,sakit panas,cedera kepala dan jantung .sehingga harus membutuhkan perawat khusus dengan di rancang sebuah MERP(program kesehatan) untuk penyakit tersebut.MERP setiap tahun nya beberapa kali mengadakan latihan kesehatan di tiap daerah sekolah untuk meningkatkan ketersediaan tanggap darurat di sekolah dan membuat perawat sekolah lebih percaya diri dalam menangani masalah kesehatan pada anak sekolah. MERP juga membuat program baru kesehatan sekolah seperti AAP dan AHA untuk memeriksa kesiapan sekolah terhadap medis darurat pada anak sekolah dan merespon bencana masal potensial. 3. Metode Bagian kuesioner telah di kembangkan untuk menentuan kesiapan sekolah terhadap keadaan medis darurat yang mengancam anak sekolah ,bagian pertama mencakup 20 pertanyaan yang pertama berfokus pada 1. latar belakang klinis perawat sekolah,2. pada demografis dari sekolah, 3. Pada frekuensi dilaporkan sendiri darurat medis dan psikiattris, 4. Kesiapan sekolah untuk mengelola keadaan darurat yang mengancam jiwa. Bagian kedua meliputi 10 skenario klinis (lampiran) mengukur ketersediaan peralatan darurat dan tingkat kepercayaan perawat sekolah. Pada bulan desember 2004 para kuesioner dikirimkan kepada 1000 anggota yang di pilih secara acak dari NASN, lalu mailing kedua dikirim bulan januari 2005 analisis data terhadap perawat sekolah di lingkungan sekolah tunggal. 4. Hasil Dari 1.000 kuesioner yang dikirim, 21 dikembalikan sebagai "tidak terkirim." Dari sisa 979 kuesioner, 675 (69%) dikembalikan. Seratus dua kuesioner yang dikembalikan dikeluarkan (37 responden pensiun, 19 responden tidak lagi bekerja di lingkungan sekolah, 20 responden bekerja di> 1 sekolah, dan 26 responden bekerja di sebuah distrik sekolah sebagai administrator), yang meninggalkan 573 kuesioner yang tersedia untuk analisis.Sebagian besar tanggapan berasal dari perawat terdaftar berlatih selama> 5 tahun dalam pengaturan pedesaan atau pinggiran kota . Menanggapi perawat sekolah diwakili 49 negara (kecuali Alaska) dan District of Columbia. Para darurat sekolah dilaporkan paling umum adalah keseleo ekstremitas dan sesak napas Peringkat sekolah perawat keadaan darurat yang paling umum sekolah terkait tidak berbeda secara signifikan pada tingkat kepercayaan 95% antara dalam kota dan pengaturan sekolah pedesaan / pinggiran kota. Ketika dikelompokkan berdasarkan dalam kota dan pedesaan / pengaturan pinggiran kota, kepercayaan dilaporkan sekolah perawat tidak berbeda secara signifikan. Ketika membandingkan tingkat pengalaman, perawat sekolah dengan ≤5 tahun pengalaman dan orang-orang dengan> 5 tahun pengalaman melaporkan tingkat yang sama kepercayaan dalam semua skenario kecuali dalam pengelolaan anak diabetes shock, di mana perawat lebih berpengalaman melaporkan keyakinan yang lebih besar . Oleh karena itu, peningkatan kesiapan sekolah untuk menangani keadaan darurat yang mengancam jiwa harus mencakup meningkatkan frekuensi latihan dari MERP (untuk mengidentifikasi hambatan potensial dan daerah untuk perbaikan), yang menghubungkan semua area kampus langsung dengan EMS melalui berbagai sarana komunikasi (telepon selular, walkie-talkie, alarm, sistem interkom), dan peran menunjuk antara staf sekolah priori untuk potensi mengancam jiwa darurat (mengelola obat, berkomunikasi dengan EMS dan departemen darurat lokal, menghubungi anggota keluarga). Peningkatan kesiapan sekolah untuk menangani keadaan darurat yang mengancam jiwa membutuhkan komitmen seluruh masyarakat,AAP telah mengharuskan 14 dokter untuk mengambil peran dalam masyarakat setempat dan pengembangan protokol pediatrik pra-rumah sakit, melatih responden pertama dalam penilaian pediatrik dan CPR, dan, dalam hal bencana, berpartisipasi dalam masyarakat atau rumah sakit bencana Darurat dokter juga harus terlibat dalam pengembangan dan organisasi sistem untuk pencegahan darurat yang mengancam kehidupan di sekolah. 5. Kesimpulan Pihak sekolah harus meningkatkan pendidikan sekolah perawat dalam penilaian dan manajemen darurat yang mengancam jiwa lainnya yang mereka memiliki lebih sedikit percaya diri, terutama overdosis, kejang, sakit panas, dan cedera kepala. Kami merekomendasikan bahwa masyarakat, termasuk dokter, dengan mengikuti pelatihan kesehatan MERP dan bagian kesehatn lainnya agar kesiapan medis darurat lebih baik untuk menjami kesehatan anak sekolah. 6. Daftar pustaka html http://pediatrics.aappublications.org/content/116/6/e738.full.html http://pediatrics.aappublications.org/content/116/6/e738.full.h tml#ref-list-1 http://pediatrics.aappublications.org/content/116/6/e738.full.html http://pediatrics.aappublications.org/cgi/collection/emergency _medicine_sub http://pediatrics.aappublications.org/cgi/collection/disaster_pr eparedness_sub http://pediatrics.aappublications.org/site/misc/Permissions.xhtml http://pediatrics.aappublications.org/site/misc/reprints.xhtm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar